Kenali Tanda-tanda Fase Kritis Demam Berdarah Dengue (DBD)

Terakhir diperbarui 1 tahun yang lalu

Waspada Fase Kritis Demam Berdarah Dengue (DBD)!

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah menjadi ancaman kesehatan yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari balita, anak muda, hingga orang dewasa. Sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu bahwa gejala awal DBD adalah demam tinggi yang datang secara tiba-tiba. Namun, tahukah Anda bahwa bahaya terbesar dari DBD justru tidak terjadi saat penderita sedang demam tinggi?

Dalam dunia medis, perjalanan penyakit DBD dikenal dengan istilah "Siklus Pelana Kuda" yang terbagi menjadi tiga fase: fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan. Banyak pasien dan keluarga yang terkecoh ketika suhu tubuh tiba-tiba turun dan demam mereda. Mereka mengira ini adalah tanda kesembuhan, padahal saat itulah pasien baru saja memasuki gerbang fase yang paling berbahaya: Fase Kritis.

Mengapa Fase Kritis Demam Berdarah Sangat Berbahaya?

Fase kritis demam berdarah biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-7 setelah demam pertama kali muncul. Pada fase ini, virus dengue menyebabkan dinding pembuluh darah melebar dan mengalami kebocoran plasma (cairan darah merembes keluar dari pembuluh darah).

Jika kebocoran ini terjadi secara masif dan tidak segera ditangani dengan terapi cairan (infus) yang tepat, pasien dapat mengalami penurunan tekanan darah yang drastis, kerusakan organ, hingga kondisi syok fatal yang disebut Dengue Shock Syndrome (DSS). Agar Anda tidak lengah dan kecolongan, mari kita pelajari bersama apa saja ciri ciri fase kritis demam berdarah (DBD) agar penanganan medis darurat bisa segera diberikan.

7 Ciri-Ciri Saat Memasuki Fase Kritis Demam Berdarah Dengue (DBD)

Jangan biarkan turunnya demam menipu Anda. Segera waspadai jika pasien menunjukkan ciri-ciri fisik berikut ini:

1. Suhu Tubuh Turun (Demam Mereda). Inilah ciri utama yang paling mengecoh. Suhu tubuh penderita yang tadinya bisa mencapai 39-40°C tiba-tiba turun menjadi normal atau bahkan di bawah normal (sekitar 37°C ke bawah). Pasien mungkin terlihat seolah-olah sudah "sembuh", padahal di dalam tubuhnya sedang terjadi kebocoran cairan pembuluh darah.

2. Nyeri Perut yang Hebat dan Terus Menerus. Bukan sekadar mulas biasa, pasien di fase kritis demam berdarah, biasanya kerap mengeluhkan sakit perut yang sangat parah, terutama di area ulu hati atau perut sebelah kanan atas (lokasi organ hati). Nyeri ini terjadi karena adanya pembesaran organ hati (hepatomegali) atau penumpukan cairan di rongga perut akibat kebocoran plasma.

3. Muntah Terus-Menerus (Persistent Vomiting). Mual adalah hal biasa saat sakit, tetapi pada fase kritis demam berdarah, muntah terjadi secara terus-menerus (lebih dari 3 kali dalam 24 jam). Pasien tidak bisa menelan makanan atau minuman sama sekali. Hal ini sangat berbahaya karena akan mempercepat terjadinya dehidrasi parah.

4. Perdarahan Spontan yang Tidak Wajar. Karena jumlah trombosit (keping darah) menurun drastis, tubuh kehilangan kemampuannya untuk membekukan darah. Akibatnya, muncul tanda-tanda perdarahan spontan seperti mimisan yang sulit berhenti, gusi berdarah saat sikat gigi, bintik-bintik merah di bawah kulit yang tidak pudar saat ditekan (petechiae), atau yang paling parah: muntah darah dan buang air besar (BAB) berwarna hitam legam.

5. Lemah, Lesu, dan Gelisah (Restlessness). Pasien tampak sangat lemas, tidak memiliki tenaga (letargi), atau sebaliknya, terlihat sangat gelisah, rewel (pada anak-anak), dan kebingungan. Otak yang tidak mendapatkan pasokan oksigen dan darah yang cukup akibat tekanan darah yang merosot tajam akan memicu perubahan perilaku ini.

6. Ujung Jari Tangan dan Kaki Terasa Dingin (Berkeringat Dingin). Coba raba ujung jari tangan dan kaki pasien. Jika terasa sangat dingin, lembap (berkeringat dingin), dan kulitnya tampak pucat atau kebiruan, ini adalah tanda bahaya (warning sign) bahwa pasien mulai memasuki fase syok. Aliran darah ke ujung-ujung tubuh sudah mulai gagal.

7. Kesulitan Bernapas (Sesak Napas). Plasma darah yang bocor keluar dari pembuluh darah tidak hanya bisa menumpuk di perut, tetapi juga di rongga dada (efusi pleura). Cairan ini akan menekan paru-paru, membuat pasien terengah-engah dan kesulitan menarik napas dalam.

Fakta Penting: Fase kritis demam berdarah umumnya berlangsung cukup singkat, yakni sekitar 24 hingga 48 jam (1-2 hari). Masa-masa krusial inilah yang menentukan keselamatan nyawa pasien. Jika berhasil melewati fase ini dengan cairan tubuh yang terjaga, pasien akan masuk ke fase pemulihan.

Kesimpulan

Memahami ciri ciri fase kritis demam berdarah (DBD) adalah tameng utama keluarga untuk menyelamatkan nyawa orang-orang terkasih. Kewaspadaan di hari ke-3 hingga ke-7 demam adalah harga mati.

Jika Anda atau keluarga mengalami demam tinggi yang mendadak reda, namun disertai dengan salah satu saja dari tanda bahaya (seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, atau lemas ekstrem), jangan menunda! Segera bawa pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat. Penanganan terlambat dalam hitungan jam pada fase kritis demam berdarah dapat berakibat sangat fatal.

Sebagai langkah pencegahan awal, pastikan pasien minum cairan sebanyak mungkin (air putih, oralit, jus jambu, kuah sup, atau air kelapa) selama masa demam untuk mencegah dehidrasi sebelum tiba di rumah sakit. Tetap waspada, terapkan 3M Plus untuk membasmi sarang nyamuk, dan sayangi keluarga Anda!

Artikel Telah Disunting Oleh : dr. Widya Prasetyo
Sumber Referensi Medis & Jurnal Terpercaya: (Artikel ini disusun secara faktual merujuk pada literatur kesehatan, organisasi medis, dan pedoman klinis berikut)

  1. World Health Organization (WHO) - Dengue Guidelines: Pedoman resmi WHO mengenai klasifikasi tingkat keparahan demam berdarah, warning signs (tanda bahaya), dan fase penyakit (febrile, critical, recovery phases).

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) (2025): "Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue" - Panduan standar penanganan klinis di Indonesia yang menekankan bahaya "Siklus Pelana Kuda" dan kebocoran plasma darah.

  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC): "Dengue Clinical Presentation" - Penjelasan medis rinci mengenai penurunan trombosit, kriteria Dengue Shock Syndrome (DSS), dan pentingnya observasi ketat saat demam mulai mereda (suhu turun).

  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI): Edukasi spesifik mengenai tanda bahaya DBD pada anak, termasuk kewaspadaan terhadap nyeri perut hebat dan muntah persisten sebagai indikator masuknya fase kritis demam berdarah.